<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Masjid MPR</title>
	<atom:link href="http://pogungraya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pogungraya.wordpress.com</link>
	<description>Pusat Dakwah Ahlus Sunnah di Pogung Raya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 May 2009 05:51:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pogungraya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/7b261aa86d6a13b105ee47b064cc5fec?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Masjid MPR</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pogungraya.wordpress.com/osd.xml" title="Masjid MPR" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pogungraya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lihatlah Orang Di Bawahmu Dalam Masalah Harta dan Dunia</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/11/lihatlah-orang-di-bawahmu-dalam-masalah-harta-dan-dunia/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/11/lihatlah-orang-di-bawahmu-dalam-masalah-harta-dan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 05:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=80&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/DOCUME%7E1/BAGUS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /><em>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.</em></p>
<p>Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.</p>
<h1>Melihat Orang Di Bawah Kita dalam Hal Harta dan Dunia</h1>
<p>Sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan ekonominya jauh di bawah kita. Seharusnya seorang muslim memperhatikan petuah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.</p>
<p>Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,</p>
<p dir="rtl"><strong>أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي</strong></p>
<p>“<em>Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, <strong>[2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku</strong></em><strong>. &#8230;</strong>” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>shahih</em></strong>)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِلَ عَلَيْهِ فِيْ المَالِ وَالخلق فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ</strong></p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan <em>al khalq</em> adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (<strong><em>Fathul Bari</em></strong>, 11/32)</p>
<h1>Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah</h1>
<p>Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَهُوَ أَجْدَر أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ</strong></p>
<p>“<em>Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Al Munawi –rahimahullah- mengatakan,</p>
<p>“Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semcam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”</p>
<p>Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan,</p>
<p>“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (<strong>Lihat</strong> <strong><em>Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir</em></strong>, 1/573)</p>
<p>Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “<em>Rumahku masih kalah dari rumah juragan minyak itu</em>.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.</p>
<p>Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki Blacberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit, bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.</p>
<h1>Dalam Masalah Agama dan Akhirat, Hendaklah Seseorang Melihat Orang Di Atasnya</h1>
<p>Dalam masalah agama, berkebalikan dengan masalah materi dan dunia. Hendaklah seseorang dalam masalah agama dan akhirat selalu memandang orang yang berada di atasnya. Haruslah seseorang memandang bahwa amalan sholeh yang dia lakukan masih kalah jauhnya dibanding para Nabi, shidiqn, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Para salafush sholeh sangat bersemangat sekali dalam kebaikan, dalam amalan shalat, puasa, sedekah, membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan amalan lainnya. Haruslah setiap orang memiliki cara pandang semacam ini dalam masalah agama, ketaatan, pendekatan diri pada Allah,  juga dalam meraih pahala dan surga. Sikap yang benar, hendaklah seseorang berusaha melakukan kebaikan sebagaimana yang salafush sholeh lakukan. Inilah yang dinamakan berlomba-lomba dalam kebaikan.</p>
<p>Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl"><strong>إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni&#8217;matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni&#8217;matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba</em>.” (QS. Al Muthaffifin: 22-26)</p>
<p>Al Qurtubhi mengatakan, “<em>Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan amalan shalih.</em>” (<strong><em>At Tadzkiroh Lil Qurtubhi</em></strong>,  hal. 578)</p>
<p>Dalam ayat lainnya, Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p dir="rtl"><strong>فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا </strong></p>
<p>“<em>Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.</em>” (QS. Al Ma’idah: 48)</p>
<p dir="rtl"><strong>وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</strong><strong></strong></p>
<p>“<em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa</em>.” (QS. Ali Imron: 133)</p>
<p>Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan mereka berikut ini yang disebutkan oleh Ibnu Rojab –rahimahullah-. Berikut sebagian perkatan mereka.</p>
<p>Al Hasan mengatakan,</p>
<p dir="rtl"><strong>إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة</strong></p>
<p>“<em>Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.</em>”</p>
<p>Wahib bin Al Warid mengatakan,</p>
<p dir="rtl"><strong>إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل</strong></p>
<p>“<em>Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.</em>”</p>
<p>Sebagian salaf mengatakan,</p>
<p dir="rtl"><strong>لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك</strong></p>
<p>“<em>Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.</em>” (<strong><em>Latho-if Ma’arif</em></strong><em>, </em>hal. 268)</p>
<p>Namun berbeda dengan kebiasaan orang saat ini. Dalam masalah amalan dan pahala malah mereka membiarkan saudaranya mendahuluinya. Contoh gampangnya adalah dalam mencari shaf pertama. <em>“Monggo pak, bapak aja yang di depan”</em>, kata sebagian orang yang menyuruh saudaranya menduduki shaf pertama. Padahal shaf pertama adalah sebaik-baik shaf bagi laki-laki dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Seandainya seseorang mengetahui keutamaannya, tentu dia akan saling berundi dengan saudaranya untuk memperebutkan shaf pertama dalam shalat, bukan malah menyerahkan shaf yang utama tersebut pada orang lain.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا</strong></p>
<p>“<em>Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا</strong></p>
<p>“<em>Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Mari kita saling berlomba dalam meraih surga dan pahala di sisi Allah!</em></p>
<h1>Kekayaan Paling Hakiki adalah Kekayaan Hati</h1>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia agar kita menjadi orang yang bersyukur dan <em>qana’ah</em> yaitu selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan, juga tidak hasad (dengki) dan tidak iri pada orang lain. Karena ketahuilah bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan karunia yang diberikan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ</strong></p>
<p>“<em>Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “<em>Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup)</em>.”</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ</strong></p>
<p>“<em>Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seolah-olah dia mendapatkan dunia seluruhnya, tentu betul-betul dia akan mensyukurinya dan selalu merasa qona’ah (berkecukupan). Kenikmatan tersebut adalah kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, kenikmatan tempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.</em>” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>)</p>
<p>Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a:</p>
<p dir="rtl"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” </em>(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat <em>‘afaf</em> dan <em>ghina</em>) (HR. Muslim)</p>
<p>An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “<em>”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.</em>” (<strong><em>Syarh Muslim</em></strong>, 17/41)</p>
<p><em>Ya Allah, berikanlah pada kami sifat ‘afaf dan ghina. Amin Yaa Mujibas Sa’ilin.</em></p>
<p>Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>****</p>
<p>Disusun di rumah mertua tercinta (Panggang, Gunung Kidul), selepas shalat shubuh, 7 Jumadil Ula 1430 H</p>
<p><em>Al Faqir Ilallah </em>: Muhammad Abduh Tuasikal (<a href="http://rumaysho.wordpress.com/">http://rumaysho.wordpress.com</a> )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=80&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/11/lihatlah-orang-di-bawahmu-dalam-masalah-harta-dan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/BAGUS/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bersyukur Kepada Allah</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/01/bersyukur-kepada-allah/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/01/bersyukur-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 09:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Alhamdulillah wa Syukurlillah&#8221; sebuah kalimat yang sering kita dengar, bahkan hal ini mungkin juga sering terucap dari lisan kita ketika ada sebuah nikmat yang kita dapatkan. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah ta&#8217;ala dia memujinya atas nikmat yang telah diberikan dan bersyukur pada Sang Pemberi Nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=78&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Alhamdulillah wa Syukurlillah&#8221; </em>sebuah kalimat yang sering kita dengar, bahkan hal ini mungkin juga sering terucap dari lisan kita ketika ada sebuah nikmat yang kita dapatkan. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> dia memujinya atas nikmat yang telah diberikan dan bersyukur pada Sang Pemberi Nikmat dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai cara yang telah diridhai-Nya.<span id="more-78"></span></p>
<p><strong>Hakikat Syukur</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman ketika memerintahkan hamba-Nya untuk ingat dan bersyukur kepada-Nya setelah Allah menyebutkan nikmat-Nya. Allah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Maka ingatlah Aku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku&#8221;</em> (QS Al Baqarah: 152,153)</p>
<p>Namun bagaimanakah kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita? Ibnul Qayyim berkata, &#8220;Hakikat syukur adalah mengetahui nikmat dari Sang Pemberi Nikmat dan disertai dengan penuh rasa tawadhu, tunduk dan cinta kepada-Nya. Barang siapa yang tidak mengetahui sebuah nikmat dan tidak tahu nikmat tersebut, maka dia belum bersyukur. Barang siapa yang sudah mengetahui sebuah nikmat namun dia belum mengenal siapa Sang Pemberi Nikmat, maka dia juga belum bersyukur. Barang siapa yang mengetahui nikmat tersebut dan dia mengetahui siapa Sang Pemberi Nikmat namun dia mengingkarinya sebagaimana orang-orang yang ingkar nikmat, maka dia telah kufur nikmat. Barang siapa yang mengetahui nikmat dan mengetahui siapa sang Pemberi Nikmat dan dia menyadari nikmat tersebut dari-Nya dan tidak mengingkari nikmat tersebut akan tetapi dia tidak tunduk pada-Nya, tidak mencintai-Nya dan tidak ridha dan senang dengan-Nya maka dia juga belum bersyukur. Barang siapa yang mengetahui nikmat tersebut, dan mengetahui siapa Sang Pemberi Nikmat, mengakui dan tidak mengingkari nikmat tersebut dan tunduk pada Sang Pemberi Nikmat, cinta, ridha dan senang dengan-Nya serta menggunakan nikmat tersebut dalam rangka kecintaan dan ketaatan pada-Nya maka inilah orang yang bersyukur kepada-Nya. Rasa syukur haruslah disertai dengan ilmu yang ada dalam hati. Amal perbuatan akan mengikuti ilmu tersebut. Ilmu yang ada dalam hati tersebut adalah kecondongan pada-Nya serta cinta dan tunduk pada sang Pemberi Nikmat&#8221; (<em>Madaarijussaalikin </em>sebagaimana dalam <em>Fathul Majid</em> hal 428, 429). Inilah hakikat manusia yang bersyukur kepada Allah, dia mengetahui dan menyadari sepenuh hati bahwa seluruh nikmat yang didapatkan berasal dari-Nya dan sebagai konsekuensinya adalah dia cinta dan ridha dengannya kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam rangka ketaatan pada-Nya dan di jalan yang dicintai-Nya.</p>
<p><strong>Kisah Tiga Orang Bani Israil: Balasan Bagi Orang Yang Bersyukur dan Tidak Bersyukur</strong></p>
<p>Marilah sejenak kita simak bersama sebuah cerita dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>yang keluar dari lisan beliau yang jujur serta berasal dari wahyu Allah dan bukan bersumber dari hawa nafsu beliau. Beliau bersabda yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya, ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat. </em></p>
<p><em>Pertama, datanglah malaikat itu kepada si  penderita lepra dan bertanya kepadanya: &#8220;Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?&#8221; Ia menjawab: &#8220;Rupa yang elok, kulit yang indah dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.&#8221; Maka diusaplah penderita lepra itu dan hilanglah  penyakit yang dideritanya serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: &#8220;Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?&#8221; Jawabnya: &#8220;Unta atau sapi.&#8221; Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan: &#8220;Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini&#8221;. </em></p>
<p><em>Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya: &#8220;Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?&#8221; Ia menjawab: &#8220;Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.&#8221; Maka diusaplah kepalanya dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: &#8220;Kekayaan apa yang paling kamu senangi?&#8221; Jawabnya: &#8220;Sapi atau unta.&#8221; Maka diberilah ia seekor sapi bunting dan didoakan: &#8220;Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.&#8221; </em></p>
<p><em>Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya: &#8220;Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?&#8221; Ia menjawab: &#8220;Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.&#8221; Maka diusaplah wajahnya dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya: &#8220;Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?&#8221; Jawabnya: &#8220;Kambing.&#8221; Maka diberilah ia seekor kambing bunting. Lalu, berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama mempunyai selembah unta, yang kedua mempunyai selembah sapi dan yang ketiga mempunyai selembah kambing.&#8221;</em></p>
<p>Selanjutnya  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,<em> &#8220;Kemudian, datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya dan berkata: &#8220;Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit  yang indah dan kekayaan ini, aku minta kepada Anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.&#8221; Tetapi dijawab: &#8220;Hak-hak (tanggunganku) banyak.&#8221; Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya: &#8220;Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula melarat, lalu Allah  memberi Anda kekayaan?&#8221; Dia malah menjawab, &#8220;Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.&#8221; Maka malaikat itu berkata kepadanya: &#8220;Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.&#8221; </em></p>
<p><em>Lalu, malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada yang pernah menderita lepra, serta ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh yang pertama itu. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya: &#8220;Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan semula.&#8221; </em></p>
<p><em>Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, &#8220;Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda; aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.&#8221; Malaikat yang menyerupai orang buta itu pun berkata: &#8220;Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.&#8221; </em>(HR Bukhari Muslim)</p>
<p>Inilah cerita yang menggambarkan pada kita balasan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> berikan kepada orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Hal ini selaras dengan firman Allah <em> ta&#8217;ala </em>yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221;</em> (QS Ibrahim: 7)</p>
<p>Akhirnya kita berdoa kepada Allah agar Ia menjadikan kita hamba-hambaNya yang senantiasa bersyukur kepada-Nya sebagaimana sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>yang senantiasa kita baca di akhir sholat kita. <em>&#8220;Ya Allah, tolonglah diriku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik&#8221;.</em> Amiin Ya Mujibbassaailiin (Abu Fatah Amrullah Akadhinta)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=78&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/05/01/bersyukur-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al Fatihah</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/26/tafsir-al-fatihah/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/26/tafsir-al-fatihah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 17:10:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam Al Qur’an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa’id bin Al Mu’alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=75&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam Al Qur’an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa’id bin Al Mu’alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan perbuatan-perbuatan Allah ta’ala yang lainnya. Maknanya Allah itu esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal mencipta, menghidupkan dan mematikan makhluk.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedangkan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti: dalam hal berdoa, merasa takut, berharap, bertawakal, meminta pertolongan (isti’anah), memohon keselamatan dari cekaman bahaya (istighatsah), menyembelih binatang, dan perbuatan-perbuatan hamba yang lainnya. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap mereka untuk menjadikan segala ibadah itu ikhlas semata-mata tertuju kepada Allah ‘azza wa jalla sehingga mereka tidak mempersekutukan sesuatupun bersama-Nya dalam hal ibadah. Sebagaimana tiada pencipta kecuali Allah, tiada yang menghidupkan kecuali Allah, tiada yang mematikan kecuali Allah, maka tiada yang berhak disembah kecuali Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">Tauhid asma’ wa shifat adalah menetapkan nama dan sifat yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi diri-Nya tanpa disertai dengan tahrif (penyelewengan makna), ta’wil (penafsiran yang menyimpang), ta’thil (menolak makna atau teksnya), takyif (menegaskan bentuk tertentu dari sifat Allah), tasybih (menyerupakan secara parsial) ataupun tamtsil (menyerupakan secara total). Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah ta’ala yang artinya,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</em> (QS. Asy Syura : 11).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sesungguhnya ayat yang mulia ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang kebenaran madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam mengimani sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla yaitu dengan menetapkan sifat serta menyucikan-Nya. Di dalam firman-Nya ‘azza wa jalla, “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” terdapat penetapan dua buah nama Allah yaitu As Sami’ (Maha Mendengar) dan Al Bashir (Maha Melihat). Kedua nama ini menunjukkan keberadaan dua sifat Allah yaitu As Sam’u (mendengar) dan Al Bashar (melihat). Sedangkan di dalam firman-Nya ta’ala, “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” terdapat penyucian Allah ta’ala dari keserupaan diri-Nya dengan makhluk dalam sifat-sifat mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mendengar tetapi tidak sebagaimana pendengaran makhluk. Dia juga melihat namun tidak sama seperti penglihatan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan ayat pertama yang terdapat dalam surat yang agung ini sudah mencakup ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan firman-Nya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya ta’ala, “Rabbil ‘alamin.” (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.”</em> (QS. Al Baqarah : 21-22).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah ‘Allah’ dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘rabb’ disebutkan dalam bentuk mudhaf (dipadukan dengan kata lain, pen). Sedangkan pada ayat lainnya yang tercantum dalam surat Yasin ia disebutkan secara bersendirian tanpa perpaduan, yaitu dalam firman-Nya, <em>“Salamun qaulan min rabbir rahim” (Semoga keselamatan tercurah dari rabb yang maha penyayang)</em> (QS. Yasin : 58).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">Adapun ‘alamin’ adalah segala makhluk selain Allah. Allah subhanahu wa ta’ala dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dia lah Sang Pencipta. Sedangkan semua selain diri-Nya adalah makhluk. Allah ‘azza wa jalla bercerita tentang kisah Musa dan Fir’aun,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Fir’aun mengatakan, ‘Apa itu rabbul ‘alamin?’ Maka Musa menjawab, ‘Dia adalah rabb penguasa langit, bumi, dan segala sesuatu yang berada di antara keduanya, jika kamu mau jujur meyakininya.’.”</em> (QS. Asy Syu’ara’ : 23-24).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">‘Ar Rahman Ar Rahim’ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam Al Qur’an pemakaiannya untuk menyebut selain-Nya. Allah ‘azza wa Jalla berfirman tentang sifat Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.”</em> (QS. At Taubah : 128).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibnu Katsir mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal surat Al Fatihah, “Kesimpulan yang dapat dipetik adalah sebagian nama Allah ta’ala ada yang bisa dipakai untuk menamai selain-Nya, dan ada yang hanya boleh dipakai untuk menamai diri-Nya -seperti nama Allah, Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya- .”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">‘Maliki yaumid din’ menunjukkan kepada tauhid rububiyah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat.</p>
<p class="MsoBodyText">Allah ‘azza wa jalla berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.” </em>(QS. Al Ma’idah : 120).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Allah juga berfirman, <em>“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”</em> (QS. Al Mulk : 1).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Allah berfirman, <em>“Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.” </em>(QS. Al Mu’minun : 88-89).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yaumid din adalah hari terjadinya pembalasan dan penghitungan amal. Di dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah adalah penguasa pada hari pembalasan -padahal Dia adalah penguasa dunia dan akhirat- dikarenakan pada hari itu semua orang pasti akan tunduk kepada Rabbul ‘alamin. Berbeda dengan situasi yang terjadi di dunia, ketika di dunia masih ada orang yang bisa melampaui batas dan menyombongkan dirinya, bahkan ada pula yang berani mengatakan, “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi.” Dan dia pun lancang mengatakan, “Wahai rakyatku semua, tidaklah aku mengetahui adanya sesembahan bagi kalian selain diri-Ku.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah. Penyebutan objek yang didahulukan sebelum dua buah kata kerja tersebut menunjukkan pembatasan. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap wajah Allah yang disertai kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">‘Ihdinash shirathal mustaqim’ (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah, sebab ia merupakan doa. Dan doa termasuk jenis ibadah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, <em>“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapapun.”</em> (QS. Al Jin : 18).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk. Allah ‘azza wa jalla berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Dan orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk, maka Allah pun akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah akan memberikan ketakwaan kepada mereka.”</em> (QS. Muhammad : 17).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Allah juga berfirman tentang Ashabul Kahfi,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami pun menambahkan petunjuk kepada mereka.”</em> (QS. Al Kahfi : 13).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Allah juga berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><em>“Dan Allah akan menambahkan petunjuk kepada orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk.”</em> (QS. Maryam : 76).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai. Demikian juga dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan orang-orang yang beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan. Mereka itulah golongan Nasrani yang sesat. Hadits yang menerangkan bahwa orang-orang yang dimurkai itu adalah Yahudi dan orang-orang sesat itu adalah Nasrani dikeluarkan oleh At Tirmidzi (hadits nomor 2954) dan ahli hadits lainnya, silakan lihat takhrij hadits ini di buku Silsilah Ash Shahihah karya Al Albani (hadits nomor 3263), di dalam buku itu disebutkan nama-nama para ulama yang menyatakan keabsahan hadits tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta’ala,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.”</em> (QS. At Taubah : 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, “Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Guru kamu Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan (1/53), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa ‘al magdhubi ‘alaihim’ adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta’ala tentang mereka,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.”</em> (QS. Al Baqarah : 90).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.”</em> (QS. Al Ma’idah : 60).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Begitu pula firman-Nya,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.”</em> (QS. Al A’raaf : 152).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedangkan golongan ‘adh dhaalliin’ telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta’ala,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.”</em> (QS. Al Ma’idah : 77).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari penjelasan terdahulu maka jelaslah bahwa surat Al Fatihah mengandung lebih daripada sekedar pembahasan ketiga macam tauhid : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Sebagian ulama ada juga yang membagi tauhid menjadi dua macam : tauhid fil ma’rifah wal itsbat -ia sudah mencakup tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat- dan tauhid fi thalab wal qashd yang tidak lain adalah tauhid uluhiyah. Maka tidak ada pertentangan antara pembagian tauhid menjadi dua ataupun tiga. Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi mengatakan di dalam Syarh ‘Aqidah Thahawiyah (hal. 42-43), “Kemudian, tauhid yang diserukan oleh para utusan Allah dan menjadi muatan kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya ada dua macam : tauhid dalam hal penetapan dan pengenalan (itsbat wal ma’rifah), dan tauhid dalam hal tuntutan dan keinginan (fi thalab wal qashd). Adapun tauhid yang pertama adalah penetapan hakikat Rabb ta’ala, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya. Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam perkara-perkara itu semua. Hal itu sebagaimana yang diberitakan oleh Allah mengenai dirinya sendiri, dan juga sebagaimana yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Qur’an telah menjelaskan dengan gamblang mengenai jenis tauhid ini, sebagaimana tercantum di dalam bagian awal surat Al Hadid, Thaha, bagian akhir surat Al Hasyr, bagian awal surat ‘Alif lam mim tanzil’ (As Sajdah), awal surat Ali ‘Imran, seluruh ayat dalam surat Al Ikhlas, dan lain sebagainya. Yang kedua : Tauhid thalab wal qashd, seperti yang terkandung dalam surat Qul ya ayyuhal kafirun, Qul Ya ahlal kitabi ta’aalau ila kalimatin sawaa’in bainana wa bainakum, awal surat Tanzilul Kitab dan bagian akhirnya, awal surat Yunus, pertengahan, dan bagian akhirnya, awal surat Al A’raaf dan bagian akhirnya, dan surat Al An’aam secara keseluruhan. Mayoritas surat-surat Al Qur’an mengandung dua macam tauhid tersebut, bahkan setiap surat dalam Al Qur’an demikian halnya; sebab Al Qur’an itu meliputi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, inilah yang disebut dengan tauhid ilmi khabari. Ia juga berisi tentang dakwah yang mengajak untuk beribadah kepada Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya serta menanggalkan segala bentuk sesembahan selain-Nya, inilah yang disebut tauhid iradi thalabi. Ia juga berisi tentang perintah dan larangan serta kewajiban untuk menaati-Nya, ini merupakan hak-hak tauhid dan penyempurna baginya. Ia juga mengandung berita mengenai pemuliaan yang diberikan bagi orang-orang yang bertauhid, kebaikan yang Allah limpahkan kepada mereka di dunia dan kemuliaan yang akan mereka terima di akhirat, maka itu semua merupakan balasan bagi ketauhidannya. Ia juga berisi berita mengenai para pelaku kesyirikan, siksa yang Allah timpakan kepada mereka sewaktu di dunia dan azab yang harus mereka rasakan di akhirat, maka itu merupakan balasan bagi orang-orang yang meninggalkan tauhid. Dengan demikian seluruh bagian dari Al Qur’an berisi tentang tauhid, hak-haknya, dan balasannya, serta menjelaskan tentang syirik, pelakunya, dan balasan (hukuman) yang diberikan kepada mereka. Maka alhamdulillahi Rabbil ‘alamin adalah tauhid. Ar rahmanir rahim adalah tauhid. Maliki yaumid din adalah tauhid. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in adalah tauhid. Ihdinash shirathal mustaqim adalah tauhid yang mengandung permohonan petunjuk untuk bisa meniti jalan ahli tauhid yang telah mendapatkan anugerah kenikmatan dari Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga bukan jalan orang-orang yang sesat; yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari tauhid.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">Dikarenakan keagungan kedudukan surat Al Fatihah ini dan ketercakupannya terhadap tauhidullah dalam hal rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma’ wa shifat-Nya, kandungan permohonan petunjuk meniti jalan yang lurus, dan dikarenakan kebutuhan setiap muslim terhadap petunjuk itu jauh berada di atas kebutuhannya terhadap apapun dan lebih mendesak, maka surat ini pun disyari’atkan untuk dibaca di setiap raka’at shalat. Di dalam Sahih Bukhari (756) dan Muslim (393) dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” Di dalam Sahih Muslim (878) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul Qur’an di dalamnya maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak sempurna.” Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kalau kami sedang berada di belakang imam, bagaimana?” Beliau menjawab, “Bacalah untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”</p>
<p class="MsoBodyText"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Makna dari firman Allah di dalam hadits qudsi ini, “Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.” ialah : kalimat yang pertama yaitu ‘Iyyaka na’budu’ mencakup ibadah, dan itu merupakan hak Allah. sedangkan kalimat yang kedua (yaitu wa iyyaka nasta’in, pen) mengandung permintaan hamba untuk memperoleh pertolongan dari Allah dan menunjukkan bahwa Allah berkenan memberikan kemuliaan baginya dengan mengabulkan permintaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Guru kami Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengambil kesimpulan hukum dari surat Al Fatihah ini untuk menetapkan keabsahan kekhilafahan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu. Beliau mengatakan di dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan (1/51), “Dari ayat yang mulia ini diambil kesimpulan mengenai keabsahan kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu. Hal itu dikarenakan beliau termasuk golongan orang yang disebut di dalam As Sab’ul Matsani dan Al Qur’an Al ‘Azhim -yaitu dalam surat Al Fatihah- yang Allah perintahkan kita untuk meminta petunjuk kepada-Nya agar bisa meniti jalan mereka. Maka hal itu menunjukkan bahwa jalan mereka adalah jalan yang lurus. Hal itu sebagaimana disinggung dalam ayat-Nya, “Ihdinash shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta ‘alaihim.” Allah telah menerangkan siapa saja golongan orang yang diberikan kenikmatan itu, dan di antara mereka adalah orang-orang shiddiq. Sementara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa Abu Bakar radhiyallahu’anhu termasuk kategori orang-orang shiddiq. Dengan demikian jelaslah bahwa beliau pun termasuk dalam golongan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah itu, itulah isi perintah Allah kepada kita yaitu memohon petunjuk agar bisa berjalan di atas jalan mereka, sehingga tidak lagi tersisa sedikitpun kesamaran bahwa Abu Bakar radhiyallahu’anhu benar-benar berada di atas jalan yang lurus, dan hal itu juga menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau adalah sah.”</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">(Diterjemahkan oleh Ari Wahyudi dari ‘Min Kunuz Al Qur’an’ karya Syaikh Abdul Mushin Al ‘Abbad hafizhahullah, hal. 1-6. Muraja’ah : Ustadz Aris Munandar, S.S.).</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=75&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/26/tafsir-al-fatihah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Merayakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/hukum-merayakan-maulid-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/hukum-merayakan-maulid-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 03:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya untuk Allah, Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para shahabatnya, dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuk dan sunnahnya, amma ba’d : Telah muncul pertanyaan tentang hukum merayakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menghidupkan hari itu untuk mengucapkan sanjungan-sanjungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan amalan-amalan yang lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=67&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:.5in;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--> <span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Segala puji hanya untuk Allah, Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para shahabatnya, dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuk dan sunnahnya, amma ba’d :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Telah muncul pertanyaan tentang hukum merayakan Maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, dan menghidupkan hari itu untuk mengucapkan sanjungan-sanjungan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>dan amalan-amalan yang lain yang dilakukan pada hari itu.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Tidak Bolehnya Merayakan Maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Maka jawabannya, tidak boleh merayakan Maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, maupun kepada yang lain, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama. Karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak pernah melakukannya, begitu juga khulafaur rasyidin, shahabat yang lain <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, dan juga tabi’in yang hidup pada kurun <em>mufadhalah,</em> padahal merekalah orang-orang yang paling tahu akan sunnah, paling sempurna kecintaannya pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, dan paling sempurna ittiba’nya pada syariat yang dibawa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dibandingkan orang-orang yang hidup sesudah mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>telah bersabda,</p>
<h1 style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama ini, maka dia tertolak</em> (Muttafaqun ‘alaih)<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Di hadits yang lain beliau bersabda</p>
<p class="MsoBodyText3" dir="rtl"><span style="font-size:22pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang telah diberi petunjuk, berpegang teguhlah dengan keduanya, dan gigitlah keduanya dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah terhadap perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bida’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat </em>(dikeluarkan oleh Qodhi’ ‘Iyadh dalam Asy Syifa’ dari Al Irbadh ibn Saariyah dan terdapat penambahan <em>“setiap yang sesat tempatnya di neraka”</em>)</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Maka dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang sangat tegas terhadap perkara yang diada-adakan dan beramal dengan perkara bidah tersebut. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="left"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> juga telah berfirman,</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;" dir="rtl" align="left"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="left"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" dir="rtl" lang="AR-SA"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Apa-apa yang telah diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa-apa yang dilarang oleh Rasul atasmu, maka tinggalkanlah</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS. Al Hasyr : 7)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" dir="ltr"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS An Nur : 63)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS Al Ahzab : 21)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" dir="ltr"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS. At Taubah : 100)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;">Syariat Din Ini Telah Sempurna, Tidak Perlu Ditambah-tambahi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">&#8230;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا&#8230;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. </span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">(QS. Al Maidah : 3)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Dan ayat yang lain yang menegaskan kesempurnaan Islam dan wajibnya mengikuti Sunnah Rasulullah sangatlah banyak.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Perbuatan yang diada-adakan semisal maulid Nabi ini mengandung konsekuensi yang sangat berat. Seakan-akan mereka mengatakan “Allah Ta’ala belum menganggap sempurna syariat Islam untuk umat ini, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> belum menyampaikan kesempurnaan tata cara ibadah untuk umat ini”, sehingga kaum muslimin muta’akhirin (belakangan) berani mengada-adakan perbuatan baru yang tidak pernah ada dalam syariat Allah!! Mereka menyangka bahwa perbuatan-perbuatan semisal merayakan Maulid Nabi ini dapat dijadikan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Jalla wa ‘Ala. </em>Maka tidak diragukan lagi bahwa perbuatan ini merupakan bahaya besar dalam din ini, didalamnya terdapat celaan kepada Allah Ta’ala dan RasulNya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam. </em>Padahal Allah telah mengakui kesempurnaan dinul Islam bagi hambanya, dan telah menyempurnakan nikmatNya kepada hambaNya dengan din ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>telah menyampaikan syariat ini secara utuh. Tidak tersisa suatu wasilah yang dapat mengantarkan kita ke surga dan menjauhkan kita dari neraka kecuali telah beliau terangkan kepada ummat ini. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda </span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم</span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" dir="ltr"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Tidaklah Allah mengutus nabi, melainkan nabi itu benar-benar menunjukkan umatnya kepada kebenaran sesuai apa yang diketahuinya kepada kaumnya, dan memperingatkan tentang keburukan yang telah dia ketahui kepada kaumnya</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Diriwayatkan dari Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em></span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">عن أبي ذر : قال : تركنا رسول الله صلى الله عليه و سلم وما طائر يقلب </span><span style="font-family:&quot;color:windowtext;font-weight:normal;" lang="AR-SA">جناحيه</span><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA"> في الهواء إلا وهو يذكرنا منه علما قال فقال صلى الله عليه و سلم : ( ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم )</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah<span> </span>shallallahu ‘alaihi wasallam<span> </span>telah meninggalkan kepada kami (ilmu) sehingga tidak ada burung yang mengepakkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menjelaskan ilmunya kepada kami” beliau berkata “ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (tidaklah tersisa suatu apapun yang dapat mendekatkan diri ke surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan telah kujelaskan semuanya kepada kalian )</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">(Dikeluarkan Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir, Syaikh Ali Hasan Al Halaby mengatakan hadits ini shohih, lihat muqaddimah ‘Ilmu Ushul Bida’,cet. Daar Ar Raayah hal. 19)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Sebagaimana kita yakini bahwa Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>adalah nabi yang paling mulia dan juga penutup para nabi, beliau telah menyampaikan risalah dan nasehat yang sempurna pada umatnya. Maka seandainya memperingati Maulid Nabi merupakan bagian dari din yang telah diridhai Allah ini, maka sudah pasti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em></span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">telah menjelaskan dan mencontohkannya kepada umat ini!! Atau setidaknya beliau pernah melaksanakannya semasa hidupnya, atau dilaksanakan oleh shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum. </em>Akan tetapi ternyata tidak diperoleh dalil dari Al Quran, As Sunnah, maupun Ijma’ para Shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> tentang amalan ibadah ini, maka hal ini menunjukkan bahwa amalan merayakan Maulid Nabi </span><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">shallallahu ‘alaihi wasallam </span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">ini merupakan amalan kebid’ahan yang mana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em><span> </span>sering mengingatkan umat ini dari perbuatan semacam ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;">Kembalikan Semuanya Pada Al Quran dan As Sunnah</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Para ulama telah sepakat tentang tidak bolehnya merayakan Maulid Nabi berdasarkan dalil-dalil yang telah kami sampaikan di atas. Akan tetapi terdapat pertentangan pendapat dari beberapa ‘ulama’ mutaakhirin, mereka membolehkannya (dengan menganggap bahwa ini adalah bid’ah hasanah?!) selama di dalamnya tidak ditemui kemunkaran-kemunkaran yang menyelisihi syariat, seperti ghuluw (berlebihan) pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>ikhtilath (bercampur) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan kemunkaran dhahir yang lain. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Akan tetapi dari perselisihan tersebut, hendaknya semuanya kita kembalikan kepada kaidah syar’i yang telah ada :<span> </span>Kembalikan semua perkara yang diperselisihkan manusia ke Kitabullah dan Sunnah RasulNya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam. </em>Sebagaimana firmanNya </span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</span><em></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">. (QS. An Nisa’ : 59)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Allah Ta’ala juga berfirman :</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">. (QS. Asy Syuuraa : 10)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Sungguh wahai saudaraku, hendaknya kita mengembalikan masalah ini –yaitu perayaan maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> kepada Kitabullah dan As Sunnah. Bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk meneliti amalan ini dalam rangka mencari al haq semata, maka dia tidak akan mendapati dalil yang tegas satupun dari Al Quran, As Sunnah, tidak pula ijma’ Shahabat. Bahkan akan dia jumpai bahwa perbuatan ini benar-benar sebuah amalan yang diada-adakan dalam agama ini. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;">Al Haq Tidaklah Dinilai dari Banyaknya yang Mengamalkan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Dan tidak boleh seorang membenarkan amalan ini hanya karena banyak dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan ‘ulamanya’?! Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa al haq tidaklah ditetapkan dengan banyaknya orang yang mengamalkannya, akan tetapi al haq ditetapkan dengan dalil syar’i. Lihatlah firman Allah Ta’ala tatkala mengisahkan tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" lang="AR-SA">dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: &#8220;Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani&#8221;. </span></em><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. </span></em><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" lang="AR-SA">Katakanlah: &#8220;Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar&#8221;.</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">(QS Al Baqarah : 111)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Orang-orang Yahudi dan Nasrani menganggap diri mereka sajalah yang akan masuk surga, dan mereka beranggapan demikian karena banyaknya umat Yahudi maupun Nasrani yang mengatakan demikian, sehingga Yahudi dan Nasrani yang lainpun ikut-ikutan membenarkan hanya karena banyak yang berbuat begitu. Tatkala ditanyakan kepada mereka tentang hujjah yang benar dari pendapat mereka, maka mereka tidak tahu.<span> </span>Lihatlah firman Allah Ta’ala yang lain,</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS. Al An’am : 116)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa kebanyakan keadaan Bani Adam adalah tersesat, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang lain,</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الأوَّلِينَ</span><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" dir="ltr"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Dan sungguh telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"> (QS. Shafaat : 71)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Mereka berada dalam kesesatannya, tanpa ada rasa yaqin dalam perkara yang mereka ikuti.”. oleh karenanya, tidak boleh bagi kita membenarkan sesuatu –terlebih urusan dalam din ini- hanya dengan alasan banyak orang yang melakukannya, tanpa menimbang dalil-dalil syar’i yang ada. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;">Bercampur dengan Kemaksiatan Yang Lain</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Adapun realita perayaan Maulid Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>yang ada pada masa sekarang, di negeri tercinta ini, maka kita dapati hampir semuanya terdapat kemaksiatan yang lain juga didalamnya, seperti ikhtilat laki-laki dengan perempuan bukan mahram, nyanyi-nyanyian dan musik-musikan, dan perkara-perkara maksiat yang lain. Hal ini menyebabkan dosa dari perayaan Maulid Nabi ini semakin bertumpuk-tumpuk, dari kebid’ahan masih ditambah dengan kemaksiatan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Belum lagi dimungkinkan ada dosa yang lebih besar dari keduanya, dan lebih besar dari semua dosa yang ada, yakni syirik akbar. Mungkin dalam acara perayaan itu terdapat perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>sehingga terdapat pujian yang menempatkan derajat beliau ke derajat uluhiyyah, seperti halnya ghuluwnya orang-orang Nasrani pada Nabinya Isa ibn Maryam. Bahkan parahnya dimungkinkan terdapat upaya istighosah kepada Rasul, memohon pertolongan pada rasul, berkeyakinan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengetahui semua perkara ghoib, dan i’tiqod kesyirikan lainnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;">Penutup</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Demikianlah risalah ini saya tulis untuk mengharap ridho dari Allah Ta’ala, kemudian sebagai wasilah untuk mengingatkan saudara-saudara kita yang masih beri’tiqod salah dalam amalnya padahal dia meyakini bahwa yang dia lakukan adalah kebaikan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Kepada Allahlah kita memohon, semoga kita dan seluruh kaum muslimin senantiasa dikaruniai taufiq, dikaruniai ilmu dalam memahami agama ini, dan dikokohkan dalam beristiqomah diatas Al Quran dan As Sunnah. Washallallahu wa sallamahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa Aalihi, wa Shahbihi, wa man tabi’ahum bi ihsaan ilaa yaumil qiyaamah. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Selesai ditulis, Masjid Pogung Raya, 26 Shafar 1430 H </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Diambil dari risalah kecil Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Baz</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Berjudul At Tahzir Minal Bida’ (Maktabah Syamilah) dengan beberapa penambahan dalil dan pengurangan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;"><span> </span>Abu Luqman Bagus P Setiawan Ibn Hamzah</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Semoga Allah memberikan ampunan kepadanya, </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;text-indent:.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">kepada kedua orang tuanya, dan kepada seluruh kaum muslimin. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=67&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/hukum-merayakan-maulid-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nanti Malam, Anda (mungkin) Akan Mati!</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/nanti-malam-anda-mungkin-akan-mati/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/nanti-malam-anda-mungkin-akan-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 02:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[maut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Anda pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulangtahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=65&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:13pt;font-weight:normal;font-style:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Anda pernah lihat acara ulang tahun? </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;">Jika ya, tentulah yang berulangtahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun. </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah hidup kita berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah hidup kita, kematian semakin bersegera menyambut kita.</span></p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:22pt;font-family:&quot;color:black;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="AR-SA">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">&#8220;Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada hari kiamat.&#8221; (Ali Imran : 185)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu&#8217;alaikum atau ber-kulonuwun (permisi) pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum Anda selesai membaca tulisan ini, Anda sudah dicabut nyawa Anda olehnya. Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah sudah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Ketika &#8216;Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, &#8220;Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang<span> </span>di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bisa lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari.&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span></span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan berkata, &#8220;Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya.&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khatimah dan akhir hidup yang buruk atau su&#8217;ul-khatimah. Husnul-khatimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Allah dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju husnul-khatimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal shalih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khatimah adalah seseorang yang mati dalam memperjuangkan kalimat Allah atau sesorang yang akhir amalannya dalam taat pada Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda yang artinya, &#8220;Siapa saja yang mengucapkan &#8216;Laa ilaaha illaLlaah&#8217; pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah , maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. &#8220;(HR. Ahmad V/391).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span>Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, &#8220;Pada saat kematian seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal shalih. Ya Allah, hamba mohon ampunanMu atas segala dosa hamba. Hamba bertaubat dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah.&#8221; Begitulah yang ia ucapkan terus menerus hingga ia meninggal dunia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span>Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, &#8220;Apa yang membuat Anda menangis?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Demi Allah, aku ingin menyambut maut dengan taubat.&#8221; Orang-orang berkata, &#8220;Lakukanlah, semoga Allah memberi rahmat kepadamu.&#8221; Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span>Mush&#8217;ab bercerita, &#8220;(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena sakit- meminta untuk dituntun dengan berkata, &#8220;Peganglah tanganku,&#8221; Dia masuk masjid bersama imam lalu ruku&#8217; sekali, setelah itu ia meninggal dunia.&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;">Itulah contoh akhir hidup orang-orang shalih terdahulu (salafush-shalih). Tentunya seperi itulah yang kita harapkan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;">Sedangkan su&#8217;ul-khatimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan<span> </span>terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Sebab-sebab su&#8217;ul-khatimah secara ringkas antara lain adalah<span> </span>perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan bid&#8217;ah (perkara dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahui &#8216;alaihi wa sallam), menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><span> </span>Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara kerabatnya sebelum meninggal dunia di-talqin untuk mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Namun ia justru mengucapkan, &#8220;Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu&#8230;.&#8221; dan begitu seterusnya hingga ia mati.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span>Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam keadaan kritis lalu di-talqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;">Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, &#8220;Naanana&#8230;naanana&#8230;&#8221; hingga ia mati.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><span> </span>Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut, &#8220;Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika<span> </span>kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman keras&#8221; Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, &#8221; Takutlah kalian dari<span> </span>berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti itu.&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;"><span> </span></span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Ada pula yang tanda-tanda su&#8217;ul-khatimah-nya tampak setelah si malang mati. Syaikh Al-Qahthany bercerita, &#8220;Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya, &#8220;Mayat itu milikmukah ?&#8221; Ia jawab, &#8220;Ya,&#8221; Aku bertanya lagi, &#8220;Apa ia ayahmu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Aku bertanya, &#8220;Kenapa ayahmu itu sampai begini?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Sewaktu hidupnya ia tidak sholat.&#8221; </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">Maka aku katakan kepadanya, &#8220;Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia!&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Ibnu Qayyim berkata, &#8220;Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di taman. </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal ini suatu kenyataan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV"><span> </span>Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. </span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">Ketika keluarganya menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu. &#8220;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Kita mohon perlindungan Allah dari su&#8217;ul-khatimah. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Orang-orang shalih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, &#8220;Aku begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut.&#8221; </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, &#8220;Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke surga, ataukah ke neraka?&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Ketika Abu &#8216;Athi&#8217;ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang bertanya, &#8220;Mengapa Anda ketakutan ?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu.&#8221;<span> </span>Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu (salafush-shalih). Walau pun sudah terkenal kesalihannya, namun tetap saja mereka takut pada su&#8217;ul-khatimah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan su&#8217;ul-khatimah? Padahal mereka, para salafush-shalih, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su&#8217;ul-khatimah</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khatimah dan tanpa su&#8217;ul-khatimah, apa yang harus dilakukan? Simak hadits ini:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda (artinya), &#8220;Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya, maka Allah telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka&#8221; Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, &#8221; Ya Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita dan kita tidak usah beramal ?&#8221; Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8221; Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka Allah akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Allah akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang celaka. &#8221; Kemudian beliau membaca firman Allah:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:22pt;font-family:&quot;color:black;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="AR-SA">فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">&#8220;Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar ( Al-Lail : 5-10 )&#8221; (HR Al-Bukhary (no. 1362) dan Muslim (no. 2647) dari Ali </span><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span>t</span></span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI">)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal shalih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman,<span> </span>Allah akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Allah menghindarkan kita dari jalan yang celaka.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="FI"><span> </span>Tentu saja, beramal shalih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="IN"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="IN">Sumber : Dunia Ditanganku, Akhirat Dihatiku, Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim, Darul Falah<span> </span>;<span> </span>Detik Menjelang Ajal, Khalid bin Abdurrahman Asy Syayi, dkk, Al Kautsar<span> </span>; Mati Dalam Kebaikan Dan Keburukan, Dr. </span><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="IN">Abdullah</span><span style="font-weight:normal;font-style:normal;" lang="IN"> bin Muhammad Al Muthliq, dkk, Darul Falah.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=65&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/22/nanti-malam-anda-mungkin-akan-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UNDIAN BERPAHALA</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/undian-berpahala/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/undian-berpahala/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 23:33:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Adzan]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Undian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[mam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=62&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>mam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</p>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p>Abdullah bin Yusuf menuturkan kepada kami. Dia berkata; Malik mengabarkan kepada kami dari Sumay bekas budak Abu Bakar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya orang-orang itu mengetahui keutamaan yang terdapat pada mengumandangkan adzan dan berada di shaf yang pertama lalu ternyata apabila mereka tidak bisa mendapatkan hal itu kecuali dengan mengundi dengan anak panah niscaya mereka pun akan mau mengundi untuk memperolehnya. Dan kalau seandainya mereka mengetahui keutamaan bergegas menuju shalat niscaya mereka pun akan berlomba mendatanginya. Dan seandainya mereka (kaum lelaki) mengetahui keutamaan yang terdapat pada shalat ‘Isyak dan Subuh (berjama’ah di masjid, pen) niscaya mereka akan mau mendatanginya meskipun harus dengan cara merangkak.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adzan hadits no 615 Bab al-Istiham fil adzan, lihat al-Fath, 2/113-114 cet Dar al-Hadits Kairo).</p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah :</p>
<ol>
<li> Yang dimaksud ‘mengetahui’ di sini adalah ilmu yang selalu melekat dan tertanam pada diri seseorang. Hal itu diketahui dari penggunaan fi’il mudhari’ -kata kerja sekarang dan akan datang- pada hadits ini, bukan dengan fi’il madhi -kata kerja lampau-. Demikian keterangan at-Thibi (lihat al-Fath, 2/114). Maksudnya, orang yang rela bersusah payah untuk mendapatkan hal itu -adzan ataupun shaf pertama- adalah orang-orang yang ilmunya senantiasa melekat dalam hatinya sehingga membuahkan keyakinan akan besarnya pahala yang Allah janjikan. Karena keyakinan itulah ia mau menempuh berbagai cara agar keutamaan itu tidak luput dengannya meskipun harus dengan cara mengundi. Wallahu a’lam.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan pentingnya ilmu dan ilmu itulah yang akan memunculkan semangat untuk beramal. Serta menunjukkan pula bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang disertai dengan ketulusan niat untuk melaksanakan atau mengamalkan konsekuensi dan kandungan dari ilmu tersebut.</li>
<li>Keutamaan yang dimaksud di sini adalah sebagaimana yang disebutkan secara tegas di dalam riwayat lainnya dari jalan al-A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa keutamaan yang dimaksudkan di situ adalah, “kebaikan dan keberkahan” (al-Fath, 2/114). Hal itu menunjukkan bahwa dengan mengumandangkan adzan atau berada di shaf pertama akan didapatkan kebaikan dan keberkahan yang lebih daripada yang diperoleh oleh jama’ah yang tidak adzan dan tidak berada di shaf yang pertama.</li>
<li>Undian ini berlaku apabila orang-orang yang berebut untuk mendapatkannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan, kriteria, atau hak yang sejajar. Adapun orang yang tidak memenuhi syarat sebagai mu’adzin atau tidak layak berada di belakang imam persis atau tidak berhak menempati shaf pertama karena sudah penuh dan dia terlambat maka undian ini tidak berlaku (lihat al-Fath, 2/114, lihat pula Fath al-Bari li Ibni Rajab, 4/220 as-Syamilah). Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaknya yang berdiri di belakangku -saat shalat- adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan pemahaman agama. Kemudian yang sesudah mereka.” (HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu’anhu). Demikian pula apabila orang yang satu telah menempati shaf pertama lebih dulu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya untuk dia tempati, namun hendaknya kalian lapangkan dan luaskanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, ini lafazh Muslim)</li>
<li>Undian yang dimaksudkan di sini bisa dengan melempar anak panah ataupun dengan cara yang lain. Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu’anhu kepada sebagian pasukan kaum muslimin yang berebut untuk mengumandangkan adzan tatkala sang mu’adzin tertimpa musibah pada saat perang penaklukan Qadisiyah. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari secara terputus/tanpa sanad namun telah disambungkan sanadnya oleh Saif bin Umar dalam al-Futuh dan at-Thabari dengan jalur sanadnya dari Saif bin Umar dari Abdullah bin Syubrumah dari Syaqiq -yaitu Abu Wa’il- (lihat al-Fath, 2/113). Riwayat ini juga menunjukkan kepada kita tentang betapa besar semangat salafush shalih dalam meraih keutamaan.</li>
<li>Undian ini bisa dilakukan untuk mendapatkan kedua hal di atas -adzan ataupun shaf pertama- bukan hanya untuk shaf pertama saja, sebagaimana ditegaskan di dalam riwayat yang lain dari Abdurrazzaq dari Malik dengan teks, “Niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkan keduanya.” (lihat al-Fath, 2/114).</li>
<li>Yang dimaksud bergegas menuju shalat di sini adalah bergegas untuk menghadiri shalat zuhur. Penafsiran inilah yang lebih sesuai dengan makna lafazh yang digunakan yaitu at-Tahjir yang berasal dari kata al-hajirah yang maknanya ‘panas yang terik di tengah siang’, dan inilah penafsiran yang dipilih oleh Bukhari (lihat al-Fath [2/163-164]). Namun, hal itu tidak berarti bertentangan dengan perintah untuk menunggu agak dingin apabila panasnya sangat terik, karena maksud dari perintah itu adalah untuk memberikan kemudahan dan bersikap lunak kepada jama’ah. Adapun lelaki yang sengaja meninggalkan tidur siang sebelum zuhur lalu berangkat lebih dulu ke masjid demi menunggu shalat jama’ah dilakukan maka keutamaan yang diperolehnya sudah sangat jelas (lihat al-Fath [2/114])</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa perintah untuk menunda shalat zuhur sampai cuaca agak dingin sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, “Apabila panas sangat terik maka tundalah shalat hingga cuaca agak dingin…” (HR. Bukhari dan Muslim) adalah perintah yang bermakna istihbab/sunnah. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama (lihat Taudhih al-Ahkam [1/444-445], Fath al-Bari [2/20]). Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengerjakan sholat zuhur pada saat hajirah -tengah-tengah siang hari/panas terik-.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengatakan, “al-Hajirah adalah panas yang sangat terik di tengah siang hari.” (al-Fath [2/26], silakan lihat juga al-Mu’jam al-Wasith [2/973])</li>
<li>Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘berlomba’ di dalam hadits ini -yaitu ketika mendatangi masjid- adalah perlombaan dalam makna abstrak/maknawi bukan dalam makna konkret, sebab berlomba-lomba secara fisik untuk itu mengandung konsekuensi ketergesa-gesaan dalam berjalan/melangkah padahal perilaku itu dilarang (lihat al-Fath, 2/115)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bolehnya mengerjakan sholat sunah -maksudnya adalah sholat tahiyyatul masjid atau sholat sunah wudhu, pen- pada saat matahari berada di tengah-tengah yaitu ketika panasnya sangat terik. Sebab tidaklah diperselisihkan bahwa orang yang masuk masjid pada saat itu diperintahkan untuk mengerjakan sholat (lihat al-Muntaqa Syarh al-Muwattha’, 1/157 as-Syamilah)</li>
<li>Hadits ini juga dengan jelas menunjukkan besarnya keutamaan sholat ‘Isyak dan Subuh berjama’ah di masjid bagi lelaki (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin [3/57]). Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu meriwayatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan sholat ‘Isyak secara berjama’ah maka seolah-olah dia mengerjakan sholat malam separuh malam lamanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan sholat Subuh secara berjama’ah maka seolah-olah dia telah melakukan sholat semalam suntuk.” (HR. Muslim). Yang dimaksud mengerjakan sholat Subuh berjama’ah yang dikatakan seperti sholat semalam suntuk ini adalah apabila disertai dengan sholat ‘Isyak berjama’ah (lihat Aun al-Ma’bud [2/74] dan Tuhfat al-Ahwadzi [1/254] as-Syamilah). Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sholat berjama’ah di masjid adalah wajib bagi lelaki muslim.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bolehnya melebihkan keutamaan satu jenis ibadah atas ibadah yang lainnya selama memang ada dalilnya dan tujuannya bukan untuk merendahkan dan melalaikan yang lainnya.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keadilan Allah ta’ala. Di mana Allah membagi-bagi ibadah dan keutamaannya sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang menjadi imam, makmum ataupun mu’adzin.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan diperintahkannya berlomba-lomba dalam hal kebaikan.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menggunakan alarm untuk membangunkan para mu’adzin dan takmir masjid supaya tidak terlambat menunaikan tugasnya</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan para takmir yang tinggal di komplek masjid, karena mereka memiliki peluang lebih besar dibanding yang lainnya untuk mendapatkan semua keutamaan di atas.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=62&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/undian-berpahala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEJAHATAN DUKUN DAN PARANORMAL</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/kejahatan-dukun-dan-paranormal/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/kejahatan-dukun-dan-paranormal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 23:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dukun]]></category>
		<category><![CDATA[Paranormal]]></category>
		<category><![CDATA[Sihir]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam bahasa Arab dukun biasa disebut dengan istilah kahin (tunggal) atau kuhan (jamak). Syaikh al-Fauzan menerangkan bahwa perdukunan merupakan pengakuan mengetahui perkara gaib seperti halnya memberitakan akan terjadinya sesuatu di muka bumi dengan bersandar kepada sebab tertentu yaitu dengan mencuri berita dari langit; ketika itu jin mencuri kabar dari ucapan malaikat lalu dia bisikkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=59&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam bahasa Arab dukun biasa disebut dengan istilah kahin (tunggal) atau kuhan (jamak). Syaikh al-Fauzan menerangkan bahwa perdukunan merupakan pengakuan mengetahui perkara gaib seperti halnya memberitakan akan terjadinya sesuatu di muka bumi dengan bersandar kepada  sebab tertentu yaitu dengan mencuri berita dari langit; ketika itu jin mencuri kabar dari ucapan malaikat lalu dia bisikkan ke telinga para dukun, kemudian dia menambahkan padanya seratus kebohongan, sehingga orang-orang pun menilai benar apa yang diucapkannya (al-Isryad, hal. 115-116). Adapun paranormal biasa disebut dengan istilah &#8216;arraf. al-Khaththabi dan sebagian ulama lain mengatakan bahwa &#8216;arraf adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu di mana letak barang curian atau barang yang hilang dan semacamnya (Syarh Nawawi, 7/335-336). Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa istilah &#8216;arraf sudah mencakup kahin/dukun dan para tukang ramal/paranormal (al-Qaul al-Mufid, 1/545)</p>
<p><span id="more-59"></span><strong>Tradisi jahiliyah dan dosa yang sangat besar</strong><br />
Dukun dan paranormal, bukan kejahatan baru. Mu&#8217;awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu&#8217;anhu mengisahkan kepada Nabi, &#8220;Wahai Rasulullah, ada beberapa perkara yang dahulu biasa kami lakukan di masa jahiliyah, [di antaranya] kami sering mendatangi dukun.&#8221; Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8220;Janganlah kalian mendatangi dukun-dukun itu.&#8221; (HR. Muslim [537]). Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan tegas melarang kita mendatangi dukun. Apabila beliau melarang umatnya melakukan sesuatu maka itu berarti melanggarnya akan menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi diri manusia.</p>
<p>Demikian juga paranormal, menekuni profesi ini merupakan pekerjaan yang sangat tercela dan kejahatan yang sangat besar menuurt kacamata syari&#8217;at Islam. Karena dengan mendatangi dan berkonsultasi kepada mereka menyebabkan ibadah sholat seorang muslim menjadi tidak lagi diterima meskipun secara hukum sah dan tidak perlu diulangi olehnya. Shafiyyah radhiyallahu&#8217;aha menuturkan dari sebagian istri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara maka sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.&#8221; (HR. Muslim [2230]). Kalau orang yang bertanya saja dosanya demikian besar, lalu bagaimana lagi yang ditanya?!</p>
<p><strong>Kedustaan yang dibumbui dengan ceceran kebenaran</strong><br />
Sebagian orang menyangkal, bahwa apa yang diberitakan oleh dukun atau paranormal sesuai dengan kenyataan. Oleh karena itu mereka tidak menganggap ramalan atau &#8216;fatwa&#8217; sang dukun sebagai sesuatu yang salah, karena apa yang dikatakannya benar-benar terjadi atau sesuai dengan keadaan. Benarkah demikian? Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiyallahu&#8217;anha menceritakan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya para dukun itu dahulu menceritakan kepada kami suatu perkara dan hal itu benar-benar terjadi/sesuai dengan kenyataan.&#8221; Maka Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8220;Itu adalah kebetulan saja, suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawannya (dari bangsa manusia) dan dia tambahkan seratus kedustaan padanya.&#8221; (HR. Muslim [2228]).</p>
<p>Di dalam hadits di atas, jelas sekali bahwa orang yang mengaku mengetahui perkara gaib semacam itu dari kalangan dukun dan paranormal adalah antek-antek dan kawan-kawan Iblis. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi, &#8220;Suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawannya (dari bangsa manusia, pent).&#8221; Maka jelaslah bagi kita bahwa pada hakikatnya dukun dan paranormal adalah para wali syaitan, bukan wali Allah! Meskipun mereka memakai sorban, peci, sarung, atau pun berkalungkan tasbih dan sajadah.</p>
<p><strong>Menolong kok jahat?</strong><br />
Mungkin ada orang yang berkomentar, &#8220;Bukankah para dukun dan paranormal itu melakukan kebaikan. Mereka melakukan itu semua demi meringankan kesusahan sesama. Bukankah itu sebuah kebaikan, mengapa justru dinilai sebagai kejahatan?&#8221;. Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, siapakah yang dimaksud orang jahat itu? Bukankah mempersekutukan Allah merupakan kejahatan paling berat di atas muka bumi ini? Allah ta&#8217;ala membenarkan ucapan Luqman kepada anaknya (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8221; (QS. Luqman : 13).</p>
<p>Bukankah perkara gaib hanya diketahui oleh Allah semata? Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Katakanlah; tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit maupun di bumi selain Allah.&#8221; (QS. an-Naml : 65). Manakah yang lebih mulia; Nabi ataukah dukun? Tentu saja Nabi jauh lebih utama, meskipun demikian ternyata Nabi pun tidak menguasai ilmu gaib. Allah ta&#8217;ala memerintahkan, &#8220;Katakanlah (hai Muhammad); Aku tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan atas diriku kecuali sekedar apa yang dikehendaki Allah, seandainya aku mengetahui perkara gaib niscaya aku akan terus bisa memperbanyak kebaikan dan tidak akan pernah tertimpa keburukan&#8230;&#8221; (QS. al-A&#8217;raaf : 188). Nah, kalau Nabi saja tidak bisa mengetahui ilmu gaib lalu bagaimana lagi dengan manusia selainnya?!</p>
<p>Bagaimanakah menurutmu apabila ada orang yang mengaku dirinya lebih hebat dan lebih mulia daripada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam? Apakah orang seperti itu layak untuk digelari sebagai orang baik, wali Allah, kyai, atau orang soleh? Orang yang soleh adalah yang senantiasa menunaikan hak Allah dan hak sesama. Dia beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya serta taat kepada rasul-Nya. Dan dia juga menunaikan kewajiban-kewajibannya kepada manusia; berbakti kepada orang tua, memuliakan tamu dan tetangga, menyambung silaturahim, dan sebagainya. Sedangkan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaannya kepada Allah. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu, sama sekali tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak juga sedih. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa memelihara ketakwaannya.&#8221; (QS. Yunus : 62-63).</p>
<p>Adapun para dukun dan paranormal, mereka itu adalah para penjahat kelas kakap yang harus diciduk dan dijatuhi hukuman berat. Bukan harta atau perhiasan yang telah mereka rampas dari kaum muslimin, bahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada intan berlian atau emas dan permata, yaitu kesucian dan kemurnian aqidah tauhid yang sudah semestinya tertanam kokoh di hati sanubari setiap mukmin dan mukminah.</p>
<p><strong>Menyeret pada kekafiran</strong><br />
Jabir bin Abdullah radhiyallahu&#8217;anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka sungguh dia telah kafir kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221; (HR. al-Bazzar dengan sanad jayid qawiy, disahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud wahyu yang diturunkan tersebut adalah al-Kitab dan as-Sunnah (Fath al-Majid, 268).</p>
<p>Dalam riwayat al-Bazzar yang bersumber dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu dengan lafaz, &#8220;Barangsiapa yang mendatangi paranormal, tukang sihir, atau dukun, lalu dia membenarkan perkataannya maka sungguh dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221; (Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). Dalil ini menunjukkan bahwa dukun dan tukang sihir dihukumi kafir, karena mereka telah berani mengaku mengetahui ilmu gaib, padahal perbuatan itu merupakan kekafiran. Demikian juga orang yang membenarkan perbuatan mereka dan meyakini apa yang mereka ucapkan dan meridhai perbuatan tersebut maka hal itu juga termasuk kekafiran, demikian papar Syaikh Aburrahman bin Hasan (Fath al-Majid, hal. 268).</p>
<p>Tentu saja hal ini menunjukkan kepada kita bahwa praktek perdukunan dan paranormal -apa pun istilahnya- merupakan penyakit masyarakat yang sangat ganas dan mematikan. Gara-gara ulah mereka aqidah masyarakat menjadi rusak, tatanan agama menjadi tidak lagi dihiraukan, muncul permusuhan, pengambilan harta tanpa hak, dan pertumpahan darah di atas muka bumi. Lebih parah lagi jika orang-orang itu -dukun/paranormal- telah dilabeli dengan gelar kyai atau pakar pengobatan alternatif. Pada hakikatnya ini adalah penyesatan yang dipoles dengan kata-kata yang indah.</p>
<p><strong>Cinta ditolak, dukun bertindak?</strong><br />
Sebagian pemuda yang dimabuk asmara akibat mengobral pandangan kepada perempuan-perempuan yang juga tidak punya rasa malu mungkin akrab dengan slogan ini, &#8216;Cinta ditolak, dukun bertindak&#8217;. Ada dua hal pokok yang perlu kita kritisi dalam slogan ini. Pertama, cinta yang salah penerapan. Ketika orang berbicara cinta, maka yang terpikir di otak para remaja adalah pacaran, apel, nonton bareng, dan seabrek kegiatan mendekati zina lainnya. Yang kedua, ketika kepentingan hawa nafsu mereka tidak terpenuhi, maka otomatis mereka lari kepada para dukun yang notebene justru menceburkan mereka ke dalam dosa yang jauh lebih berat yaitu syirik dan kekafiran. Ini tidak jauh dengan ungkapan, &#8216;Lepas dari gigitan singa, terjatuh ke mulut buaya&#8217;. Nah, tentu ini merupakan musibah dan bencana yang menghancurkan iman dan jati diri seorang insan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia berkenan mengampuni dosa lain di bawah tingkatan syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217; : 116).</p>
<p>Perhatikanlah, inilah realita umat yang hari ini kita hadapi&#8230; Ketika aqidah dan akhlak generasi muda telah terkikis dan luntur dari lubuk hati mereka, maka secara otomatis syaitan dan bala tentaranyalah yang bekerja dan memegang kendali dalam tubuh dan akal pikiran mereka. Maka tidaklah mengherankan jika banyak remaja yang menggandrungi kisah-kisah fiksi yang menyajikan lika-liku dunia perdukunan dan sihir menyihir, bahkan ia menempati posisi best seller yang terjual laris dalam waktu yang singkat, laa haula wa laa quwwata illa billaah! Sementara di sisi lain, kita saksikan kitab-kitab para ulama salaf masih menjadi barang langka yang menghiasi rak dan meja para pemuda dan generasi penerus perjuangan Islam di masa depan. Jangankan memiliki kitabnya, membaca tulisan arab gundul pun mereka tidak sanggup melakukannya&#8230; Sungguh memprihatinkan, sebuah umat yang telah diwarisi dengan al-Kitab dan as-Sunnah oleh Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, namun justru lebih menggandrungi kitab-kitab &#8216;sihir&#8217; yang memalingkan mereka dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Ketika dahulu para sahabat asyik menelaah dan menyimak hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam perbincangan mereka sehari-hari -sampai-sampai mereka menangis-, namun pada hari ini kita saksikan obrolan kaum muda hanya dipenuhi dengan gelak tawa dan isak tangis palsu gara-gara menonton film favorit, pertandingan sepak bola yang sarat dengan suporter ala jahiliyah, dan artis idola atau ramalan bintang anda hari ini,  fa inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;uun.</p>
<p><strong>Merebut kursi basah dengan sowan kepada &#8216;simbah&#8217;</strong><br />
Kedudukan dan pangkat telah melupakan sebagian orang. Demi meraih kedudukan strategis dalam perusahaan atau pemerintahan maka orang rela untuk menjual agamanya. Sebagian orang, sebelum menentukan langkah-langkah politik dan strategi untuk mencapai puncak pimpinan maka dia sowan (menghadap) dulu kepada simbah (orang pintar alias dukun) yang di sebagian daerah biasa dijuluki oleh masyarakat sebagai kyai. Maka berbagai persyaratan pun diajukan agar konsumen tersebut bisa mendapatkan apa yang dia harapkan. Setelah itu, sang dukun mengobral ramalan dan menceritakan wahyu atau wangsit yang didapatkannya. Benar, dia telah mendapatkan wahyu, namun sayang wahyunya bukan dari Allah tapi dari Syaitan la&#8217;natullahi &#8216;alaih. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang ramalan mereka, &#8220;Itu adalah kebetulan saja, suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawan/walinya (dari bangsa manusia) dan dia tambahkan seratus kedustaan padanya.&#8221; (HR. Muslim [2228]).</p>
<p>Inilah sekelumit gambaran tentang dunia ramal meramal dan perdukunan yang telah meracuni atmosfer kehidupan kaum muslimin di berbagai daerah. Apa yang tertuang di sini hanyalah sebagian kecil dari berbagai bentuk praktek perdukunan dan sihir menyihir yang ternyata memang ada dan terjadi di masyarakat kita. Jalan keluar darinya adalah dengan kembali kepada bimbingan al-Kitab dan as-Sunnah yang menuntun kita untuk mencuci bersih hati kita dari segenap kotoran keyakinan dan mengisinya dengan siraman ayat-ayat suci dan wasiat &#8216;kanjeng&#8217; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tidak akan tercapai kejayaan umat ini kecuali dengan tauhid, sebagaimana tidak akan selamat seorang hamba di &#8216;mahkamah&#8217; peradilan Allah kelak di hari kiamat kecuali dengan tauhid. Sudah saatnya, bagi setiap individu muslim untuk menyadari bahaya besar ini (baca: syirik) dan berjuang untuk menyelamatkan aqidah mereka dan saudara-saudaranya dari tipu daya para dukun dan paranormal yang gemar menebar ocehan-ocehan gombal. Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam, walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamiin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=59&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/21/kejahatan-dukun-dan-paranormal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH</title>
		<link>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/20/menangis-karena-takut-kepada-allah/</link>
		<comments>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/20/menangis-karena-takut-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 04:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pogungraya</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Menangis]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pogungraya.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=55&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).</p>
<p><span id="more-55"></span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.  Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”</p>
<p>Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).</p>
<p>Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).</p>
<p>Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.  al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”  Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.  Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.</p>
<p>Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”</p>
<p>Saya [penyusun artikel] berkata: Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? Beginikah seorang salafi, wahai saudaraku? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (lihat QS. al-Maa’idah : 74).</p>
<p>Aina nahnu min haa’ulaa’i? Aina nahnu min akhlagis salaf? Ya akhi, jadilah salafi sejati!</p>
<p>Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah, asbabuhu wa mawani’uhu wa thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word. Disarikan oleh abu muslih ari wahyudi (abu0mushlih.wordpress.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pogungraya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pogungraya.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pogungraya.wordpress.com&amp;blog=6413774&amp;post=55&amp;subd=pogungraya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pogungraya.wordpress.com/2009/04/20/menangis-karena-takut-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4f1ce98f3299f27024fc94b2686c0c8a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pogungraya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
